KARAWANG —Tinta Merah Click -Presiden Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Arya Mandalika, Hendra Arya Mandalika, S.H., M.H., mengusulkan kepada Bupati Karawang dan Panitia Hari Jadi Kabupaten Karawang agar rangkaian Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393 pada 14 September 2026 menghadirkan pagelaran Wayang Golek Ruwat Hajat Bumi bersama Kyai H. Deden Kosasih Sunarya, Putra Giri Harja 2.
Menurut Hendra, usulan tersebut tidak semata-mata didasarkan pada keinginan menghadirkan hiburan rakyat. Pagelaran wayang golek justru diharapkan menjadi ruang kebudayaan yang mempertemukan perjalanan sejarah Karawang, kearifan Sunda, kehidupan masyarakat agraris, nilai keagamaan, pelestarian lingkungan, penghormatan kepada petani, serta semangat pembangunan Karawang MOTEKAR 2026.
> “Kami mengusulkan Kyai H. Deden Kosasih Sunarya dari Giri Harja 2 bukan sekadar untuk menghadirkan sebuah pertunjukan. Kami ingin Hari Jadi Karawang menjadi momentum ketika rakyat diajak mengingat sejarah, menghormati karuhun, mensyukuri bumi, menjaga budaya, sekaligus menatap masa depan Karawang,” ujar Hendra Arya Mandalika.
Karawang Bukan Sekadar Wilayah Administratif
Hendra menilai Karawang mempunyai perjalanan sejarah dan kebudayaan yang panjang. Jauh sebelum terbentuk sebagai kabupaten, wilayah Karawang telah berada dalam dinamika peradaban Jawa Barat dan kehidupan masyarakat Sunda.
Karawang kemudian berkembang sebagai wilayah yang mempertemukan berbagai lapisan sejarah: kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda, perkembangan Islam, pemerintahan kabupaten, masyarakat pertanian, perjuangan, hingga industrialisasi modern.
Karena itu, menurut LBH Arya Mandalika, peringatan Hari Jadi ke-393 seyogianya tidak berhenti pada seremoni dan hiburan.
Hari Jadi harus menjadi ruang untuk mengingat dari mana Karawang berasal dan ke mana Karawang hendak dibawa.
Semangat tersebut dinilai sejalan dengan tema MOTEKAR: Maju, Optimis, Tangguh, Efektif, Kolaboratif, Adaptif, dan Responsif.
Dalam pandangan Hendra, kata motekar juga memiliki resonansi kuat dalam kehidupan masyarakat Sunda: manusia dituntut terus berikhtiar, mampu mencari jalan keluar, bekerja bersama, membaca perubahan zaman, tetapi tidak kehilangan akar dan jati dirinya.
Kearifan Sunda Kuno dan Filosofi Padi
LBH Arya Mandalika juga memandang penting menghadirkan nilai-nilai kebudayaan Sunda dalam perayaan tersebut.
Warisan intelektual Sunda Kuno, termasuk Sanghyang Siksa Kandang Karesian dan tradisi naskah Amanat Galunggung, memperlihatkan bahwa masyarakat Sunda sejak berabad-abad lalu telah mengenal nilai moral, tanggung jawab, pembelajaran, keteraturan kehidupan, penghormatan terhadap warisan leluhur, serta pentingnya pengetahuan.
Salah satu filosofi yang sangat dekat dengan Karawang adalah ilmu padi: semakin berisi, semakin merunduk.
Bagi Hendra, filosofi tersebut memiliki makna istimewa karena Karawang selama berpuluh-puluh tahun dikenal sebagai salah satu daerah penting pertanian dan lumbung padi.
> “Padi bagi Karawang bukan hanya hasil pertanian. Padi adalah simbol kehidupan. Di dalam sebutir padi terdapat kerja keras petani, air, tanah, kesabaran, gotong royong dan harapan akan masa depan,” katanya.
Karena itu, pembangunan Karawang modern menurutnya harus mampu mempertemukan sawah dan industri, tradisi dan teknologi, desa dan kota, serta warisan masa lalu dan kemajuan masa depan.
Wayang Golek sebagai Tontonan dan Tuntunan
Alasan lain LBH Arya Mandalika mengusulkan Kyai H. Deden Kosasih Sunarya adalah posisi wayang sebagai medium komunikasi kebudayaan yang sangat kuat di tengah masyarakat Sunda.
Wayang tidak hanya mengandung unsur hiburan. Di dalamnya bertemu seni sastra, bahasa, gamelan, seni suara, seni rupa, seni kriya, humor, dramaturgi, filsafat, etika, hingga pendidikan masyarakat.
Secara internasional, UNESCO mengakui Wayang Puppet Theatre Indonesia; tradisi wayang diproklamasikan sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2003 dan kemudian masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2008. Pengakuan tersebut mencakup tradisi wayang Indonesia dengan berbagai bentuknya, termasuk boneka kayu tiga dimensi seperti golèk.
LBH Arya Mandalika menegaskan hal tersebut penting disampaikan secara tepat agar tidak muncul klaim keliru bahwa UNESCO menetapkan “Wayang Golek” secara tersendiri sebagai Masterpiece.
Dalam konteks itulah Kyai H. Deden Kosasih Sunarya sebagai Putra Giri Harja 2 dinilai mempunyai relevansi untuk membawa panggung wayang sebagai ruang tontonan sekaligus tuntunan.
Ruwat Hajat Bumi Dimaknai sebagai Syukur kepada Tuhan
Hendra juga menekankan bahwa gagasan Ruwat Hajat Bumi Karawang harus ditempatkan secara tepat dalam konteks kebudayaan dan keagamaan.
Konsep tersebut bukan dimaksudkan sebagai pemujaan terhadap benda atau praktik yang bertentangan dengan ajaran agama.
Ruwat Hajat Bumi dalam perayaan pemerintah dapat dikemas sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia tanah dan hasil bumi, doa bagi keselamatan masyarakat, penghormatan kepada petani, kepedulian terhadap lingkungan, serta komitmen melestarikan kebudayaan.
> “Yang kita syukuri adalah karunia Tuhan. Budaya menjadi bahasanya. Bumi kita rawat, petani kita hormati, kesenian kita jaga, dan keselamatan masyarakat Karawang kita doakan bersama,” tegas Hendra.
Dengan pendekatan tersebut, menurutnya, nilai religius dan kebudayaan tidak perlu dipertentangkan. Seni justru dapat menjadi media pendidikan dan dakwah kultural yang membawa pesan persatuan, moralitas, kemanusiaan dan kecintaan terhadap lingkungan.
“Meruwat Karawang” dalam Makna Modern
LBH Arya Mandalika menawarkan pemaknaan yang lebih luas terhadap istilah ruwat nagari.
Meruwat Karawang pada 2026 bukan hanya kegiatan yang berlangsung satu malam di atas panggung.
Meruwat Karawang berarti merawat sawah dan sungai, menjaga lingkungan, membangun pemerintahan yang bersih, melindungi masyarakat kecil, menghormati petani, memberi ruang kepada seniman, menjaga situs sejarah, memperkuat pendidikan, mengembangkan ekonomi, serta memastikan pembangunan menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.
Karawang saat ini merupakan salah satu wilayah yang mempertemukan kekuatan industri dengan warisan agraris. Karena itu, pembangunan masa depan harus mampu menjaga keseimbangan.
> “Karawang harus maju, tetapi jangan kehilangan jati dirinya. Karawang harus modern, tetapi jangan melupakan sejarahnya. Industri harus tumbuh, tetapi sawah, air, lingkungan, kebudayaan dan kehidupan masyarakat juga harus mendapatkan tempat yang terhormat,” ujar Hendra.
Dari Karuhun Menuju Karawang MOTEKAR
Menurut LBH Arya Mandalika, pagelaran Wayang Golek Ruwat Hajat Bumi dapat menjadi simbol perjalanan panjang tersebut.
Dari kearifan Sunda Kuno menuju masyarakat Karawang hari ini.
Dari sawah menuju kawasan industri.
Dari warisan karuhun menuju teknologi.
Dari tradisi menuju pembangunan masa depan.
Semuanya dapat dipertemukan melalui semangat Karawang MOTEKAR.
Maju tanpa tercerabut dari sejarah. Optimis tanpa meninggalkan tuntunan moral. Tangguh menghadapi perubahan. Efektif dalam melayani masyarakat. Kolaboratif dalam membangun daerah. Adaptif menghadapi zaman. Responsif terhadap kebutuhan rakyat.
LBH Arya Mandalika Berharap Usulan Dipertimbangkan
Atas dasar sejarah, kebudayaan, filosofi agraris dan nilai pendidikan tersebut, LBH Arya Mandalika berharap Bupati Karawang H. Aep Syaepulloh, S.E. beserta Panitia Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393 dapat mempertimbangkan pagelaran Wayang Golek Ruwat Hajat Bumi bersama Kyai H. Deden Kosasih Sunarya – Putra Giri Harja 2 sebagai salah satu agenda kebudayaan dalam perayaan 14 September 2026.
Hendra menegaskan bahwa usulan tersebut bukan untuk kepentingan kelompok tertentu, melainkan sebagai gagasan kebudayaan agar Hari Jadi Karawang meninggalkan pesan yang dapat dikenang masyarakat.
> “Tiga ratus sembilan puluh tiga tahun adalah perjalanan yang sangat panjang. Kita tidak cukup hanya merayakannya. Kita harus meninggalkan pesan kepada generasi berikutnya bahwa pembangunan dan kebudayaan dapat berjalan bersama.”
Ia menutup pernyataannya dengan pesan:
> “Ti karuhun urang meunang ajén. Ti bumi urang meunang kahirupan. Ti budaya urang meunang jati diri. Ti persatuan urang ngawangun mangsa hareup.”
Karawang MOTEKAR — Ngamumulé budaya, miara bumi, ngajaga jati diri, ngawangun nagari.
KARAWANG, 30 AGUSTUS 2026
HENDRA ARYA MANDALIKA, S.H., M.H.
Presiden Direktur LBH Arya Mandalika
PATMANABA – GIRIHARJA 2
Lembaga Bantuan Hukum Arya Mandalika











